PERDAGANGAN ILEGAL SEMAKIN MENGANCAM SATWA LIAR

Perubahan habitat satwa liar menjadi perkebunan maupun pemukiman menyebabkan intensitas konflik satwa liar dengan manusia terus meningkat. Tidak sedikit ancaman yang terjadi berkaitan dengan semakin sempitnya habitat hidup satwa berupa hutan. Selain itu, perdagangan satwa ke berbagai kota bahkan sampai ke mancanegara pun terus meningkat, kondisi ini membuat populasi satwa kian hari semakin menyusut.

Pasar satwa di blok Pasar Burung Komplek Pasar Raya Padang, Sumatera Barat pada awal bulan Oktober 2020, walaupun hanya beberapa kios yang tersisa bukan berarti perdagangan satwa berkurang. Perubahan sistem perdagangan dari off-line menjadi on-line di masa pandemi COVID-19 benar-benar dimanfaatkan para pedagang satwa liar. PSBB atau Pembatasan Sosial Berskala Besar tidak serta merta mengurangi pendapatan para pedagang yang memang sudah berpraktik secara online. “Rangkong ini bisa dipesan terlebih dahulu.”, ujar Novi Rovika, Orangufriends Padang sambil menirukan pedagang yang menunjukkan video burung rangkong.

Salah satu pedagang yang tetap membuka kiosnya menyampaikan bahwa pada dasarnya para “pecinta burung” lebih suka bertransaksi secara langsung antara pedagang dan pembeli karena lebih terjamin dan jelas kualitas satwa yang diperdagangkan. 

Memelihara burung di dalam sangkar untuk menikmati keindahan kicauannya masih mendominasi jenis burung yang diperdagangkan. “Seindah apapun sangkar yang ada tak kan pernah menggantikan fungsi burung itu di alam. Jangan beli satwa liar. Satwa liar, di hutan aja!”. (Netu_Orangufriends)

What's your reaction?
0Cool0Upset0Love0Lol

Add Comment

to top