DUA PASANG, INDUK DAN BAYI ORANGUTAN TERANCAM DI KUTAI TIMUR

Pada bulan September yang lalu, tim APE Crusader melakukan penelusuran habitat orangutan ke kecamatan Batu Ampar, kabupaten Kutai Timur. Tim menemukan adanya aktivitas satu individu orangutan betina bersama bayinya sedang asik mengupas batang kayu dan memakan kambium di batang kayu tersebut. Saat melanjutkan perjalanan, tim menemukan satu orangutan betina lainnya yang sedang menggendong bayinya yang berjarang kurang lebih satu kilometer dari temuan sebelumnya. Orangutan tersebut terlihat berada di atas pohon, mengambil ranting-ranting dan daun-daun lalu merakitnya sebagai sarang yang akan digunakannya untuk beristirahat. Waktu menunjukkan pukul 17.3 WITA, hari mulai gelap dan orangutan mulai mempersiapkan sarang yang nyaman untuk beristirahat. 

Aktivitas induk dan bayinya sangat memikat hati, namun menyimpan kenyataan yang tidak diinginkan. Tim APE Crusader mengamati aktivitas kedua induk orangutan beserta anaknya tersebut di pinggir jalan yang berada di area konsesi Hutan Tanaman Industri (HTI). Dari hasil citra udara menggunakan drone, terlihat bahwa area berhutan yang tersisa terlah terhimpit PT MPS. Selain itu, lokasi tersebut juga tidak jauh dari simpang dusun Singasari, desa Rimba Lestari, kecamatan Batu Ampar yang menyimpan konflik dengan masyarakat di sekitar area tersebut.

Orangutan merupakan satwa yang dilindungi oleh negara karena statusnya yang hampir punah. Meskipun begitu, 80 persen dari habitat orangutan berada di luar kawasan hutan yang dilindungi seperti areal konsesi hutan produksi, perkebunan kelapa sawit bahkan pertambangan. Oleh karena itu, skema High Conservation Value (HCV) atau Nilai Konservasi Tinggi muncul sebagai solusi dalam pengelolaan perkebunan atau konsesi yang berada di kawasan hutan atau areal berhutan yang memiliki nilai konservasi yang tinggi. Salah satu kategori HCV adalah kawasan yang merupakan habitat bagi populasi spesies yang terancam dan hampir punah.

Ahli Biologi Centre for Orangutan Protection, Indira Nurul Qomariah menyatakan bahwa induk orangutan memiliki kebutuhan pakan 2 kali lipat lebih banyak untuk dapat memenuhi kebutuhan pakan anaknya. “Selain itu, anak orangutan juga harus belajar berbagai macam makanan hutan dan mengembangkan kemampuan survival nya. Hal tersebut tidak dapat dilakukan dengan maksimal di dalam hutan yang terisolasi di tengah-tengah konsesi.”, tambah Indira. 

“Habitat orangutan yang berada di areal-areal konsesi seharusnya dilindungi sebagai area yang bernilai konservasi tinggi atau High Conservation Value (HCV) dan tidak dibuka untuk perkebunan. Induk dan bayi orangutan sangat rentan terhadap perburuan dimana sering sekali induk orangutan dibunuh untuk dapat mengambil anaknya.”, jelas Sari Fitriani, Manajer Perlindungan Habitat COP. Upaya untuk melindungi keberadaan induk dan bayi orangutan sudah sepatutnya dilakukan oleh berbagai pihak, khususnya pihak pengelola kawasan. (SAR)

What's your reaction?
0Cool0Upset0Love0Lol

Add Comment

to top