5000 LEBIH SATWA MATI DALAM PERDAGANGAN ONLINE DI CINA

Hari Hewan Sedunia yang jatuh pada tanggal 4 Oktober diwarnai dengan duka mendalam. Ribuan kelinci, anjing, kucing, guinea pig atau marmot ditemukan mati dalam kotak-kotak pengiriman di Cina. Mereka terlantar selama seminggu lebih di salah satu pusat logistik di provinsi Henan, Cina.

Hewan-hewan peliharaan ini ditangkarkan pada sebuah peternakan di Cina Timur ini, rencananya akan dikirim ke para pembeli yang telah memesan mereka secara online. Sebagian besar diketahui mati dalam perjalanan akibat sesak, dehidrasi dan kelaparan.

Kekejaman terhadap hewan nyatanya tidak hanya dengan melakukan kekerasan seperti memukul, mendang dan kekerasan fisik lainnya. Mengabaikan dan menelantarkan pun bisa termasuk dalam kekejaman bahkan kejahatan terhadap hewan. Hal ini tercantum dalam pasal 302 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Indonesia yang berisi,

“Melakukan penganiayaan ringan terhadap hewan (dengan sengaja menyakiti atau melukai hewan atau merugikan kesehatannya, atau tidak memelihara hewan peliharaannya dengan layak) diancam dengan pidana penjara paling lama 3 bulan atau pidana denda paling banyak Rp 4.500,00. Jika melakukan penganiayaan berat terhadap hewan (sakit lebih dari seminggu, luka-luka, cacat atau mati), diancam dengan pidana penjara paling lama 9 bulan atau pidana denda paling banyak Rp 300,00. Jika hewan tersebut milik yang bersalah, maka hewan tersebut dapat dirampas. Percobaan melakukan kejahatan tersebut tidak dipidana.”.

Kejadian tersebut bisa saja terjadi di wilayah hukum Indonesia. Perdagangan hewan domestik bahkan satwa liar bukanlah hal yang tepat untuk dilakukan. Bila tak diawasi dengan ketat, sebaik apapun pengiriman yang dilakukan akan tetap beresiko tinggi bagi hewan tersebut. “Kesejahteraan satwa seharusnya menjadi hal yang utama. Sama halnya dengan bagaimana kita selalu mementingkan kesejahteraan kita, manusia di atas segalanya. Hewan juga makhluk hidup yang dapat merasakan lapar, haus, stres, takut dan menderita. Bayangkan saja bagaimana mereka harus menahan lapar, mencari udara saat terkurung dalam kotak-kotak kecil untuk sekedar dapat bernafas.”, jelas Liany D. Suwito, manajer non habitat COP. (LIA)

What's your reaction?
0Cool0Upset0Love0Lol

Add Comment

to top